Translate

Jumat, 13 Januari 2017

BAB VIII PERTENTANGAN SOSIAL & INTEGRASI MASYARAKAT

BAB VIII

PERTENTANGAN SOSIAL & INTEGRASI MASYARAKAT

INTEGRASI SOSIAL
 Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhanintegrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.
Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu : 1.Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan social dalam suatu sistem sosial tertentu
2.Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu.
Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya. Menurut pandangan para penganut funsionalisma struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut :
1.Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya consensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar)
2.Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.
Penganut konflik berpendapat bahwa masyarakat terintegtrasi atas paksaan dan karena adanya saling ketergantungan di antara berbagai kelompok. Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial.
PERTENTANGAN DAN KETEGANGAN DALAM MASYARAKAT
Konflik (pertentangan) mengandung suatu pengertian tingkah laku yang lebih luas dari pada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar atau perang. Dasar konflik berbeda-beda. Terdapat 3 elemen dasar yang merupakan ciri-ciri dari situasi konflik yaitu  :
1.Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau baigan-bagianyang terlibat didalam konfl
2.Unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan-  kebutuhan, tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasan-gagasan
3.Terdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut.

Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misalnya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi paa lingkungan yang paling kecil yaitu individu,sampai kepada lingkungan yang luas yaitu masyarakat.
1.Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk kepada adanya pertentangan, ketidakpastian, atau emosi emosi dan dorongan yang antagonistic didalam diri seseorang
2.Pada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik yang terjadi dalam diri individu, dari perbedaan-perbedaan pada para anggota kelompok dalam tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan norma-norma, motivasi-motivasi mereka untuk menjadi anggota kelompok, serta minat mereka.
3.Pada taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan di antara nilai-nilai dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai an norma-norma kelompok yang bersangkutan berbeda.Perbedan-perbedaan dalam nilai, tujuan dan norma serta minat, disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman hidup dan sumber-sumber sosio-ekonomis didalam suatu kebudayaan tertentu dengan yang aa dalam kebudayaan-kebudayaan lain.
Adapun cara-cara pemecahan konflik tersebut adalah :
1.Elimination; yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang telibat dalam konflik yagn diungkapkan dengan : kami mengalah, kami mendongkol, kami keluar, kami membentuk kelompok kami sendiri
2.Subjugation atau domination, artinya orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk mentaatinya
3.Mjority Rule artinya suara terbanyak yang ditentukan dengan voting akan menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4.Minority Consent; artinya kelompok mayoritas yang memenangkan, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta sepakan untuk melakukan kegiatan bersama
5.Compromise; artinya kedua atau semua sub kelompok yang telibat dalam konflik berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah
6.Integration; artinya pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak
Pertentangan atau ketegangan adalah tingkah laku yang berdasarkan emosi. Tiga ciri situasi pertentangan yaitu:
1. ada beberapa bagian yang ada dalam konflik
2. adanya interaksi yang menyebabkan perbedaan
3. adanya perbedaan antara kebutuhan, tujuan, nilai dll
GOLONGAN BERBEDA DAN INTEGRASI SOSIAL
Masyarakat indonesia adalah masyarakat yang majemuk, msyarakat majemuk itu dipersatukan oleh sistem nasional negara indonesia. Aspek kemasyarakatan yang mempersatukannya antara lain :
Suku bangsa dan kebudayaannya
2. Agama
3. Bahasa,
4. Nasion Indonesia
Bentuk Integrasi Sosial
Asimilasi, yaitu pembauran kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli.
Akulturasi, yaitu penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli.
Faktor-Faktor Pendorong

A. Faktor Internal :
kesadaran diri sebagai makhluk sosial
tuntutan kebutuhan
jiwa dan semangat gotong royong

B. Faktor External :
tuntutan perkembangan zaman
persamaan kebudayaan
terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
persaman visi, misi, dan tujuan
sikap toleransi
adanya kosensus nilai
adanya tantangan dari luar
Syarat Berhasilnya Integrasi Sosial

1. Untuk meningkatkan Integrasi Sosial, Maka pada diri masing-masing harus mengendalikan perbedaan/konflik yang ada pada suatu kekuatan bangsa dan bukan sebaliknya.
2. Tiap warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya.
Konflik/Pertentangan
Konflik/Pertentangan berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatuinteraksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
 Penyebab terjadinya konflik/Pertentangan dimasyarakat
1. Perbedaan Kepentingan
Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku dari individu. Individu bertingkah laku karena adanya dorongan untuk memenuhi kepentingannya. Kepentingan ini bersifat esensial bagi kelangsungan kehidupan individu itu sendiri. Jika individu berhasil memenuhi kepentingannya, maka mereka akan merasa puas dan sebaliknya bila gagal akan menimbulkan masalah bagi diri sendiri maupun bagi lingkungannya.
Individu yang berpegang pada prinsipnya saat bertingkah laku, maka kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh individu tersebut dalam masyarakat merupakan kepuasan pemenuhan dari kepentingan tersebut. Oleh karena itu, individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang yang sama persis dalam aspek-aspek pribadinya, baik jasmani maupun rohaninya. Dengan itu, maka akan muncul perbedaan kepentingan pada setiap individu, seperti:

1. Kepentingan individu untuk memperoleh kasih sayang.
2. Kepentingan individu untuk memperoleh harga diri.
3. Kepentingan individu untuk memperoleh penghargaan yang sama.
4. Kepentingan individu untuk memperoleh prestasi dan posisi.
5. Kepentingan individu untuk dibutuhkan orang lain.
6. Kepentingan individu untuk memperoleh kedudukan didalam kelomponya.
7. Kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri.
8. Kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri.

Dalam hal diatas menunjukkan ketidakmampuan suatu ideologi mewujudkan idealisme yang akhirnya akan melahirkan suatu konflik.  Hal mendasar yang dapat menimbulkan suatu konflik adalah jarak yang terlalu besar antara harapan dengan kenyataan pelaksanaan. Perbedaan kepentingan ini tidak secara langsung menyebabkan terjadinya konflik tetapi ada beberapa fase, yaitu Fase Disorganisasi dan Fase
2. Prasangka, Diskriminasi, dan Ethnosentrisme
a. Prasangka dan diskriminasi
Prasangka dan Diskriminasi dapat merugikan pertumbuh-kembangan dan bahkan integrasi masyarakat. Prasangka mempunyai dasar pribadi, dimana setiap orang memilikinya. Melalui proses belajar dan semakin dewasanya manusia, membuat sikap cenderung membeda-bedakan dan sikap tersebut menjurus kepada prasangka. Apabila individu mempunyai prasangka dan biasanya bersifat diskriminatif terhadap ras yang diprasangka. Jika prasangka disertai dengan agresivitas dan rasa permusuhan, biasanya orang yang bersangkutan mencoba mendiskiminasikan pihak-pihak lain yang belum tentu salah, dan akhirnya dibarengi dengan sifat Justifikasi diri, yaitu pembenaran diri terhadap semua tingkah laku diri.

b. Perbedaan Prasangka dan diskriminasi
Perbedaan Prasangka dan Diskriminasi, prasangka adalah sifat negative terhadap sesuatu. Dalam kondisi prasangka untuk menggapai akumulasi materi tertentu atau untuk status sosial bagi suatu individu atau suatu. Seorang yang berprasangka rasial biasanya bertindak diskriminasi terhadap rasa yang diprasangka.
c. Sebab-sebab timbulnya Prasangka dan Diskriminatif
1. Latar belakang sejarah.
Misalnya : bangsa kita masih menganggap bangsa Belanda adalah bangsa penjajah.Ini dilatarbelakangi karena pada masa lampau Bangsa Belanda menjajah Indonesia selama kurang lebih 3,5 abad.
2. Dilatar belakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional
Apabila prasangka bisa berkembang lebih jauh sebagai akibat adanya jurang pemisah antara kelompok orang kaya dengan orang miskin.
3. Bersumber dari faktor kepribadian
Bersifat prasangka merupakan gambaran sifat seseorang. Tipe authorian personality adalah sebagian ciri kepribadian seseorang yang penuh prasangka, dengan ciri-ciri bersifat konservatif dan tertutup.
4. Perbedaan keyakinan, kepercayaan, dan agama.
Banyak sekali konflik yang ditimbulkan karean agama. Seperti yang kita alami sekarang diseluruh penjuru dunia.
d. Usaha mengurangi/menghilangkan prasangka dan diskriminasi
Dapat dilakukan dengan perbaikan kondisi sosial dan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan usaha peningkatan pendapatan bagi WNI yang masih di bawah garis kemiskinan. Perluasan kesempatan belajar. Sikap terbuka dan lapang harus selalu kita sadari.
sumber:

Selasa, 10 Januari 2017

BAB VII Masyarakat Pedesaan dan perkotaan

Masyarakat Pedesaan dan perkotaan


BAB  I
PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang

Masyarakat pedesaan di Indonesia tergolong masyarakat yang sangat jauh tertinggal, hal ini disebabkan keberedaan wilayah yang jauh dari pusat pembangunan Nasional. Bahkan hampir tidak tersentuh oleh pembangunan Nasional. Beberapa metode dan pendekatan telah dikembangkan untuk memahami masalah dan membantu merumuskan kebijakan guna memecahkan masalah pembangunan pedesaan. Sejak tahun 1970an para pakar banyak yang memanfaatkan metode, pendekatan, dan logika berfikir survei verifikatif dalam meriset masalah sosial masyarakat pedesaan. Masyarakat desa adalah komunitas yang tinggal di dalam satu daerah yang sama, yang bersatu dan bersama-sama, memiliki ikatan yang kuat dan sangat mempengaruhi satu sama lain. Hal ini dikarenakan pada masyarakat desa tradisi itu masih sangat kuat dan kental. Bahkan terkadang tradisi ini juga sangat mempengaruhi perkembangan desa, karena terlalu tinggi menjunjung kepercayaan nenek moyang mengakibatkan sulitnya untuk melakukan pembaharuan desa. Di sisi lain banyak hal yang mengakibatkan  sebuah desa sulit untuk mengalami pembaharuan, antara lain isolasi wilayah, yaitu desa yang wilayahnya berada jauh dari pusat ekonomi daerah, desa yang mengalami ketertinggalan di bidang pembangunan jalan dan sarana-sarana lainnya, sulitnya akses dari luar, bahkan desa yang mengalami kemiskinan dan keminiman tingkat pendidikan. Pada umumnya masyarakat desa diidentikkan dengan masyarakat petani, ini dikarenakan masyarakat pedesaan dominan bermata pencaharian dari hasil pertanian yang merupakan petani-petani  miskin yang mata pencahariannya di bawah garis kemiskinan. Hal ini menunjukkan kesenjangan yang sangat jauh dari masyarakat perkotaan.Studi yang banyak dilakukan sebelumnya mengenai pembangunan pedesaan biasanya lebih menyoroti  perekonomian desa. Hasil-hasil yang dicapai antara lain berupa gambaran tentang kondisi kehidupan sosial ekonomi, keadaan pemenuhan kebutuhan pokok penduduk, tingkat produksi dan fasilitas pemasaran komoditi yang dihasilkan penduduk, dan prospek kehidupan desa pada umumnya. Dalam studi kita sekarang ini fokus perhatian diarahkan tidak pada perekonomian desa, tetapi pada manusia desa. Maka hasil pembangunna pedesaan tidak sematamata diartikan sebagai peningkatan produksi, penyempurnaan pemasaran atau diversifikasi dalam perekonomian desa, tetapi lebih bersifat konprehensif, yang mencakup spektrum kemanusiaan yang luas. Tujuan dan hasil akhir dari pendekatan yang demikian adalah pembangunan manusia seutuhnya di pedesaan yang diartikan sebagai: ”kemajuan yang mantap dan terus menerus dalam kondisi kehidupan yang mengandung unsur-unsur kebebasan, kebahagiaan, dan keamanan bagi seluruh anggota masyarakat”.

1.2       Batasan Masalah
Pada tulisan ini hanya akan menerangkan Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan yang berkaitan dengan pengertian, agama, ciri-ciri, perbedaan, aspek kelebihan dan kekurangan.




BAB  II
MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN

2.1   Pengertian Masyarakat

Kata masyarakat dikutip dari kata dalam bahasa Inggris, yaitu society yang artinya sekelompok orang yang berkumpul membentuk sebuah sistem yang berinteraksi antar individu-individu yang berada di bawah kelompok tersebut.
Masyarakat adalah perwujudan kehidupan bersama manusia.
Masyarakat  adalah sekelompok  individu  yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan  memiliki budaya. 
Masyarakat dapat mempunyai arti yang luas dan sempit.
Arti luas masyarakat : keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa.
Arti sempit masyarakat : sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya territorial, bangsa, golongan.

2.2   Ciri -  Ciri  Masyarakat
1.  Beranggotakan minimal 2 orang.
2.  Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.
3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.
4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.

2.3   Tipe - Tipe  Masyarakat
1.      Tipe masyarakat yang berkebun yang amat sederhana dengan ubi jalar sebagai tanaman pokoknya dalam kombinasi dengan berburu atau meramu.
2.      Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau di sawah dengan padi sebagai tanaman pokok. Sistem dasar kemasyarakatannya berupa “Komunitas Petani”.
3.      Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sektor perdangan dan industri yang lemah.
4.      Tipe masyarakat metropolitan yang mulai mengembangkan suatu sektor perdangan dan industri yang agak berarti, tetapi yang masih didominasi oleh aktivitas kehidupan pemerintah.

Dipandang dari Cara Terbentuknya, Masyarakat dapat dibagi :
1. Masyarakat Paksaan, misal Negara, Masyarakat Tawanan
2. Masyarakat Merdeka :
a. Masyarakat Nature : masyarakat yang terjadi dengan sendirinya, seperti gerombolan, suku, yang bertalian dengan hubungan darah/ keturunan.
b. Masyarakat Kultur : masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan/kepercayaan, misal koperasi, kongsi perekonomian, gereja.
2  Tipe  Masyarakat   :
a.  Masyarakat kecil yang belum begitu kompleks, yang belum mengenal pembagian kerja, belum mengenal struktur dan aspek-aspeknya masih dapat dipelajari sebagai satu kesatuan.
b.   Masyarakat yang sudah kompleks, yang sudah jauh menjalankan spesialisasi dalam segala bidang dikarenakan ilmu pengetahuan modern, teknologi yang sudah maju.
2.4   Syarat  Masyarakat

1.   Harus ada pengumpulan manusia, dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang
2.   Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama disuatu daerah tertentu
3.   Adanya aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju pada kepentingan dan tujuan bersama




2.5   Pengertian Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
 Masyarakat Pedesaan (Rural Community) :  masyarakat yang tinggal di pedesaan dan di kategorikan sebagai masyarakat yang hidup melalui dan dalam suasana pemikiran alam pedesaan
Biasanya mereka bekerja, berfikir, dan melakukan kegiatan apapun selalu mendasarkan diri pada apa-apa yang biasa berlaku di daerah pedesaan.
Masyarakat Perkotaan  (Urban Community) : masyarakat  yang mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non agraris
2.6   Ciri – Ciri  Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
Ciri – Ciri Masyarakat Pedesaan :
a.   Warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat
b.   Memiliki pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antra ribuan jiwa
c.   Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuaan terhadap kebiasaan
d.   Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar ke keluargaan
e.    Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian
f.    Cara berusaha (ekonomi) ialah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti : iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan
g.   Masyarakatnya homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat  istiadat

Ciri – Ciri Masyarakat Perkotaan :
a.   Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa
b.   Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan /individu
c.   Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan memiliki batas-batas yang nyata
d.   Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa
e.   Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan daripaa faktor pribadi
f.    Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu
g.   Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar

2.7   Perbedaan  Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
1. Jumlah Dan Kepadatan Penduduk
2. Lingkungan Hidup
3. Mata Pencaharian
4. Corak Kehidupan Sosial
5. Stratifikasi Sosial
6. Mobilitas Sosial
7. Pola Interaksi Sosial
8. Solidaritas Sosial
9. Kedudukan Dalam Hierarki Administrasi Nasional

2.8    Aspek Positif dan Negatif
         Aspek Positif Fungsi dan Tugas Aparatur Pemerintah Kota Harus di Tingkatkan :
         a.  Aparatur kota harus dapat menangani berbagai masalah yang timbul di kota. Untuk itu, maka pengetahuan tentang administrasi dan perencanaan kota harus dimilikinya
         b.  Kelancaran dalam pelaksanaan pembangunan dan pengaturan tata kota harus di kerjakan dengan cepat dan tepat, agar tidak disusul dengan masalah lain
         c.  Masalah keamanan kota harus dapat di tangani dengan baik sebab kalau tidak, maka kegelisahan penduduk akan menimbulkan masalah baru
         d.  Dalam rangka pemekaran kota, harus di tingkatkan kerjasama yang baik antara para pemimpin di kota dengan para pemimpin di tingkat Kabupaten, tetapi juga dapat bermanfaat bagi wilayah Kabupaten dan sekitarnya
        
         Aspek Negatif  Masalah Kota :
a.                Menekan angka kelahiran
b.    Mengalihkan pusat pembangunan pabrik (industri) ke pinggiran kota
c.    Membendung urbanisasi
d.   Mendirikan kota satelit dimana pembukaan usaha relatif rendah
e.  Meningkatkan fungsi dan peranan kota-kota kecil/desa-desa yang telah ada di sekitar kota besar
f.    Transmigrasi bagi warga yang miskin dan tidak memiliki pekerjaan.

2.9    Agama
Agama yang dianut oleh masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan umumnya sama yaitu beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha. Namun yang membedakan adalah masyarakat pedesaan yang umumnya di daerah pedalaman masih mengikuti adat istiadat nenek moyang yang sering dilaksanakan.

  
BAB  III
KESIMPULAN

Masyarakat terdiri atas berbagai orang, dengan ragam pandangan, sikap, nilai dan kepentingan. Ada masyarakat yang tinggal di perkotaan yang disebut masyarakat perkotaan, dan sebaliknya ada masyarakat yang tinggal di pedesaan yang disebut masyarakat pedesaan. Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Terdapat hubungan yang erat, bersifat ketergantungan, karena diantara saling membutuhkan. Kota tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota misalnya saja buruh bangunan dalam proyek-proyek perumahan, proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan. Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang juga diperlukan oleh orang desa seperti alat transportasi, bahan-bahan pakaian, alat dan obat pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk memelihara kesehatan.

BAB III INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT Individu, Keluarga, dan Masyarakat

BAB III
INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT
Individu, Keluarga, dan Masyarakat

Haloo teman-teman, ini adalah artikel pertama saya, dan juga sebagai tugas Ilmu Sosial Dasar di Universitas Gunadarma.
A. Pertumbuhan Individu
Apa itu individu? Individu adalah organisme tunggal, bagian kecil dari kelompok masyarakat. Individu juga mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan adalah proses penambahan yang tidak bisa kembali ke semula. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa pertumbuhan individu adalah proses penambahan individu dimana individu tersebut akan terus bertambah dan tidak bisa kembali ke jumlah semula.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, diantaranya adalah :

1. Faktor Biologis

Setiap individu dalam kelompok masyarakat beberapa memiliki kesamaan sikap dan perilaku, namun pasti mempunyai ciri khusus pada fisiknya yang merupakan warisan biologis. Seperti contohnya ada individu yang badannya tinggi, ada juga individu yang badannya pendek.

2. Faktor Geografis

Lingkungan disekitar individu dapat mempengaruhi pertumbuhannya. Contohnya seperti individu yang tinggal di hutan bisa lebih bertahan hidup daripada individu yang tinggal di perkotaan. Ataupun sebaliknya individu yang tinggal di perkotaan, lebih mengerti perkembangan teknologi daripada individu yang tinggal di hutan.

3. Faktor Kebudayaan

Setiap individu memiliki budaya yang berbeda-beda. Kebudayaan disekitarnya dapat mempengaruhi pertumbuhan individu tersebut. Contohnya seperti seorang individu memiliki budaya berburu disekitarnya, sehingga dalam hidupnya ia memiliki keberanian dalam menghadapi hewan.

B. Keluarga
Kumpulan dari beberapa individu dapat membentuk suatu keluarga. Keluarga adalah kumpulan individu yang bermula dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang menjadi satu kesatuan, dengan seorang yang laki-laki menjadi kepala keluarga.
Keluarga mempunyai fungsi. Maksudnya fungsi keluarga ini dalam keluarga dapat terjadi pertumbuhan dari setiap individu yang ada di dalamnya.

Macam-macam fungsi keluarga adalah :

1. Fungsi Psikologis
- Seorang individu memiliki identitas keluarga (misal sebagai ayah).  
-  Adanya rasa aman dan kasih sayang yang diberikan satu individu ke individu lain (misal ibu kepada    anak).
- Dapat menjalin hubungan dengan keluarga lain sehingga dapat saling membantu.


2. Fungsi Pendidikan
- Adanya penanaman pendidikan dan keterampilan dari individu ke individu. Contohnya ibu            mengajari anaknya menulis dan membaca.
- Adanya proses yang diberikan individu agar individu lain dapat berkembang menjadi seorang yang    dewasa. Contohnya seperti ayah yang mengajari anaknya untuk berperilaku sopan terhadap orang-    orang disekitarnya.


3. Fungsi Sosial Budaya
- Meneruskan nilai - nilai budaya yang dimiliki oleh individu ke individu yang lain (keturunannya).
- Adanya pembentukan norma-norma yang baik yang berlaku di keluarga maupun di masyarakat.

4. Fungsi Biologis
- Meneruskan keturunan
- Adanya pemeliharaan dan perawatan antar individu dalam keluarga.
- Adanya pemenuhan kebutuhan antar individu dalam keluarga.

C. Masyarakat
Masyarakat adalah kumpulan dari beberapa keluarga yang membentuk suatu ikatan antar keluarga satu dengan keluarga yang lainnya. Masyarakat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan non-industri dan golongan industri.

1. Golongan Non-industri

Masyarakat non-industri dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok primer dan kelompok sekunder.

Kelompok primer adalah kelompok masyarakat yang memiliki ikatan yang kuat antar keluarga dalam masyarakat tersebut. Sehingga dalam bentuk pemenuhan akan kebutuhan antar keluarga dilandaskan atas kesadaran dan kesukarelaan dari masing-masing keluarga dalam masyarakat. Contohnya yaitu ketika jalan disekitar rumah rusak, beberapa keluarga dengan kesadarannya berkumpul dan merencanakan untuk memperbaiki jalanan disekitar rumah mereka yang rusak.

Sedangkan untuk kelompok sekunder adalah kelompok masyarakat yang ikatan antar keluarga kurang, hanya bersifat formal saja, dan hubungannya secara tidak langsung. Sehingga para anggota keluarga dalam masyarakat hanya memikirkan fungsi mereka masing-masing atas dasar kemampuan dari antar keluarga.

2. Golongan Industri

Masyarakat industri adalah kumpulan dari keluarga-keluarga yang masing-masing memiliki kemampuan khusus sehingga dapat membantu satu sama lain lewat kemampuan khusus yang dimiliki. Contohnya adalah misal dalam suatu kelompok masyarakat, terdapat keluarga yang membuat roti, mereka dapat menjadi sumber makanan bagi keluarga lain dalam kelompok masyarakat tersebut dengan menjual rotinya tersebut, dan keluarga yang lain dapat membeli. sehingga terjadi ketergantungan dan pemenuhan kebutuhan antar keluarga tersebut.


D. Hubungan Individu, Keluarga, dan Masyarakat
Sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa individu adalah organisme tunggal yang merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat. Lalu juga kita mengetahui bahwa keluarga adalah kumpulan individu-individu yang membentuk suatu ikatan dalam satu kesatuan. Kemudian kita juga mengetahui bahwa masyarakat adalah kumpulan keluarga-keluarga yang juga membentuk suatu ikatan yang dapat membantu satu sama lain dalam pemenuhan kebutuhan antar masing-masing keluarga.

Lalu apa hubungan antara individu, keluarga, dan masyarakat? Untuk hubungan antara individu dengan keluarga sangat jelas karena individu tumbuh dari keluarga, hingga pada saatnya nanti individu tersebut akan bertemu dengan individu lain dan membentuk suatu keluarga sendiri. Lalu untuk hubungan antara individu dengan masyarakat adalah suatu tahapan lebih lanjut terhadap individu yang sudah dapat berinteraksi dengan baik dengan individu lain. Hal ini bisa kita lihat karena dalam masyarakat terdapat keluarga-keluarga yang memiliki latar belakang budaya dan daerah yang berbeda-beda. Sehingga untuk membina masyarakat yang baik, setiap individu dalam keluarga masing-masing dalam kelompok masyarakat harus memiliki kemampuan interaksi yang baik sehingga dalam kelompok masyarakat muncul ketergantungan antar keluarga. Contohnya seperti adanya kegiatan gotong royong, ikut serta dalam menjaga keamanan lingkungan masyarakat, dan juga adanya musyawarah untuk pengambilan keputusan yang adil.


E. Urbanisasi
Dalam suatu kelompok masyarakat, khiususnya masyarakat kecil (misalnya di pedesaan), terdapat beberapa keluarga yang mungkin memiliki kebutuhan yang lebih sehingga keluarga tersebut berpindah dari desa tersebut ke kota. Hal seperti ini biasa disebut urbanisasi. Secara singkat urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Ada beberapa hal yang menjadi faktor urbanisasi, pertama adalah jumlah lapangan kerja di pedesaan terbatas sehingga mendorong keluarga untuk berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan. kedua juga karena fasilitas di pedesaan masih kurang memadai, seperti kurangnya pendidikan, kesehatan dan transportasi. Ketiga karena upah pekerjaan di perkotaan dianggap lebih besar daripada upah pekerjaan di desa sehingga keluarga lebih memilih pindah untuk tetap bisa mencukupi kehidupan keluarga.



Referensi : http://abdulhakim9511.blogspot.co.id/2014/11/hubungan-individu-keluarga-dan.html
                 http://www.pengertianku.net/2015/12/pengertian-urbanisasi-dan-faktor-pendorongnya.html
             http://dianalfidarmawan.blogspot.co.id/2014/11/perbedaan-masyarakat-industri-dan-non.html
         https://khairunissanasrul.wordpress.com/2013/10/21/2-ilmu-sosial-dasar-individu-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pertumbuhan/
http://www.artikelsiana.com/2015/08/pengertian-individu-populasi-komunitas.html#